Senin, 26 Mei 2014

TRANSMISSION



Transmission Dump Truck

Main relief valve
Main Relief valve terdapat dalam Torque Converter valve assembly yang terletak diatas Torque converter housing. Main relief valve bekerja untuk membatasi maksimal pressure dalam system control transmission. Saat pressure system mencapai settingnya (37.5 + 1.5 kg/cm2), main relief valve akan membebaskan sebagian flow discharge pump menuju Torque Converter, sehingga tidak terjadi kenaikan pressure dalam system control transmission. Dengan demikian Torque converter hanya akan bekerja setelah main pressure tercapai.

Lock up valve
Lock-up valve dan lockup solenoid valve juga terdapat pada Torque Converter valve assembly.
Kedua valve bekerja untuk mengatur besarnya pressure yang sesuai untuk lock-up clutch dan juga menepatkan saat bekerjanya clutch lock up .

Lock-up valve mempunyai modulating valve hingga saat lock-up clutch engaged, dapat lebih halus (smooth) untuk menurunkan beban hentakan atau kejutan saat perpindahan speed. Sehingga mencegah terjadinya puncak beban yang berkelanjutan (generation of peak torque) pada power train.Dengan demikian unit mudah dikendalikan dan kemampuan serta daya tahan power train akan meningkat.

Saat Transmission controller mengirimkan arus perintah menuju solenoid valve, maka pilot pressure yang menekan spool piston lock-up akan dibebaskan menuju sirkuit drain, sehingga tension spring akan menggerakkan spool lock-up untuk menghubungkan pressure pump dengan piston lock-up untuk mengengagedkannya. Kenaikan pressure lock-up clutch diatur secara bertahap (modulating) dengan cara mengalirkan pilot pressure menuju load piston untuk memperbesar tension spring secara bertahap dan saat load piston mencapai akhir langkahnya (tertahan pada stopper) maka setting pressure lock-up clutch + 16 kg/cm2 telah tercapai.

Torque converter relief valve
Torque Converter relief valve juga terdapat dalam Torque converter valve assembly. T/C relief valve bekerja untuk membatasi pressure oli dari sisi drain Main relief valve yang akan masuk ke dalam torque converter. Jika pressure oli mencapai + 8 kg/cm2, sebagian oli akan dibebaskan menuju circuit transmission lubrication, sehingga pressurenya tidak dapat naik .

Oil cooler
Oil cooler type Element (layer) dipasang dalam lower tank radiator, sehingga terendam air radiator. Terdapat port inlet yang menerima oli yang relative panas dari port outlet torque converter, dan oli mengalir didalam element cooler. Selanjutnya permukaan element cooler akan menyalurkan panas oli dan air radiator akan menyerap panas oli sehingga temperature oli dalam range kerja standart, selanjutnya oli yang sudah relative lebih dingin dialirkan melalui port outlet oil cooler menuju circuit transmission lubrication.

Torque converter
Torque converter dipasang menjadi satu dengan PTO dan transmission. Didalam system, Torque Converter terletak diantara engine dan transmission. Torque converter yang digunakan bertipe 3 element, 1 stage, 2 phase with lock-up clutch, sehingga terdiri dari pump, turbin, stator dan lock-up clutch. T/C berfungsi untuk meneruskan putaran dan tenaga engine dengan menaikkan torquenya (1:2.4). Pump berfungsi untuk merubah tenaga mekanis menjadi kinetis yang selanjutnya tenaga kinetis yang bekerja pada turbin akan kembali menghasilkan tenaga mekanis, dengan terjadinya kenaikan torque. Stator with one way clutch berfungsi untuk mengalirkan balik aliran oli dari turbin menuju pump. Sedangkan saat lock-up clutch engaged, maka tenaga dan putaran engine akan diteruskan secara langsung (main clutch) menuju power train.

Transmission assembly
Komponen yang menjadi satu torque converter dan PTO, dipasang pada middle of chasis dengan menggunakan rubber mounting. Transmission terdiri dari susunan beberapa clutch pack (planetary gear system & clutch) dan rotary clutch yang berfungsi untuk merubah kecepatan menjadi beberapa tingkat kecepatan F1 – F7 dan R dengan mengengagedkan 2 buah clutch secara bersamaan. Input shaft transmission dihubungkan dengan turbin Torque converter dan out shaft transmission dihubungkan menuju differential dengan menggunakan propeller shaft. Setiap clutch mempunyai ECMV yang bekerja mengengagedkan secara bertahap untuk mengurangi terjadinya kejutan saat shifting gear, sesuai dengan arus perintah dari transmission controller Dengan demikian unit dapat dijalankan maju atau mundur dengan kecepatan yang berbeda beda sesuai posisi gearshift lever dan beban yang terjadi (kondisi operasi).

Downshift inhibitor
Suatu system untuk mencegah terjadinya shiftdown secara tiba tiba saat terjadi kesalahan operasi, misalnya pada awalnya gearshift selector posisi D dan actual gearspeed 6th , kemudian secara tidak sengaja gearshift selector diposisi 3, maka gearspeed tidak akan dapat langsung shiftown ke gearspeed 3rd , tetapi akan shiftdown secara bertahap 5th, 4th, 3rd , sehingga tidak terjadi hentakan yang dapat menyebabkan kerusakan pada komponen transmission.

Overrun prevention
Suatu system pengaman unit, yang bekerja secara otomatis saat speed engine mencapai 2600 rpm (berdasarkan transmission input shaft speed sensor), untuk mengaktifkan rear brake – retarder brake, sehingga kecepatan unit dikurangi secara otomatis dan mencegah terjadinya overrunning pada engine, torque converter dan transmission, dengan demikian akan meningkatkan daya tahan (durability) dan keandalan (reliability) unit.

Shift up and shift down point
Saat dimana input shaft transmission mencapai kecepatan putar tertentu, sebagai batasan dilakukannya shifting gear secara otomatis, baik saat shift-down atau shift-up. Shift-up point adalah saat dimana dilakukan kenaikan gearspeed secara otomatis misal dari F3 ke F4, sedangkan shift-down point adalah saat dimana dilakukan penurunan gearspeed secara otomatis misal dari F4 ke F3. Shift up dan shift down point akan dirubah secara otomatis oleh transmission controller untuk menyesuaikan dengan kondisi operasi : High power mode atau Braking mode atau Economy mode, dengan tujuan untuk mengefektifkan tenaga engine sebagai penggerak power train, menaikkan efek brake cooling serta memaksimalkan engine sebagai brake.

ECMV( Electronic Control Modulating Valve )       
ECMV  terdiri dari dua valve : pressure proportional valve dan flow sensor valve.

Pressure Control valve
Pressure control valve terdiri dari proportional solenoid yang menerima sinyal arus dari controller transmission dan pressure control valve merubahnya menjadi pressure hydraulic.

Flow Sensor valve
Valve ini bekerja berdasarkan pemicu (trigger pressure) dari pressure control valve dan mempunyai fungsi seperti sebagai berikut :
1)Valve akan terbuka sampai clucth diisi oli, sehingga menurunkan waktu (filling time) yang terpakai saat oli mengisi clutch.
2)Saat clucth menjadi penuh oli, valve akan menutup dan mengirim sinyal (Full Signal) ke controller untuk memberitahukan bahwa pengisian sudah penuh.
           
3)Saat pressure mulai terjadi di clutch, output signalnya (full signal) akan dikirim ke controller untuk memberitahukan apakah benar-benar terbangkit pressure atau tidak

Direct Drive
Suatu sistem pemindahan tenaga dan putaran yang menggunakan mekanisme clutch (disc with torsion damper), sehingga tidak terjadi pengurangan putaran atau perubahan torque, dengan kata lain hampir 100% tenaga engine akan disalurkan ke power train.

Over Drive
Suatu system transmission dimana putaran output shaft pada saat gearspeed tertinggi melebihi putaran input.

Shift up and shift down
Shift up : Perpindahan gear speed ketingkat kecepatan yang lebih tinggi, F1F2, F4F5
Shift down : Perpindahan gear speed ketingkat kecepatan yang lebih rendah F2F1, F5F4

Slipping of Disc
Suatu kondisi dimana Torque Transmitting Capacity clutch (disc) lebih kecil dari besarnya Load atau Torque yang harus diteruskan, sehingga justru terjadi slip pada disc yang mengakibatkan keausan abnormal. TTC disc dipengaruhi oleh : Friction Material – friction coefficient, total luas bidang kontak (diameter, jumlah disc), pressure oli.

Torque Converter stall
Suatu kondisi dimana output T/C (turbin) tidak berputar (diam) karena beban yang berlebihan (overload), sedangkan pump berputar sesuai putaran engine.

Transmision over-speeding
Suatu kondisi dimana putaran output transmission lebih tinggi daripada putaran input (engine) yang disebabkan factor percepatan unit terutama saat travel di jalan menurun, dengan kata lain, engine diputar oleh final drive. Untuk mencegah hal ini terjadi maka system dilengkapi dengan overrun prevention, dimana rear brake secara otomatis bekerja, untuk mengurangi kecepatan unit.