Senin, 14 Oktober 2013

CARA MENENTUKAN UKURAN FUSE

Ukuran Fuse
Sebelum menentukan ukuran fuse,syarat pertama yang harus diketahui adalah ukuran daya (Watt) dari beban yang akan dipasang Jika sudah diketahui daya yang akan dipasang kemudian dilanjutkan dengan mencari arus yang akan diserap oleh beban menggunakan metode Power Triangle.

Metode Power Triangle ini menunjukkan bagaimana hubungan antara power(W),voltage(U),dan current(I).Caranya adalah dengan menutupi unit yang akan dicari menggunakan jari.maka ukuran fuse (rated current) harus dua kali dari arus yang akan melewatinya pada saat operasi normal.Titik putus (Breakpoint) suatu fuse akan terjadi apabila arus yang melewatinya 35% lebih besar daripada rated current.
Breakpoint inilah yang akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan ukuran kabel yang akan digunakan.

Fuse  breakpoint  (Ampere)  =  1,35  x rated current (Ampere)

Contoh: Beban yang akan dipasang pada suatu unit adalah 260 W, maka:
1. Beban yang digunakan  260 W, maka arus yang akan diserap adalah: 260 W/24 V = 10,8 A
2. Ukuran dari fuse adalah (rated current): 10,8 A x 2 = 21,6 A
3. Maka ukuran fuse adalah 25 A (ukuran fuse diambil satu tingkat diatas rated current)

Ukuran kabel
Ukuran kabel yang digunakan dalam perhitungan ini adalah ukuran Sectional Area dari suatu kabel. Sectional area adalah luasan dari konduktor yang ada pada kabel apabila kabel dipotong dan dilihat dari depan yang mempunyai satuan milimeter persegi (mm2). 

sectional area
Menentukan  ukuran sectional  area  dari kabel ditentukan oleh beberapa hal, yaitu:
1. Fuse breakpoint,
2. Panjang  kabel  dalam  satuan  meter (mulai  dari  sumber  tegangan  hingga bertemu dengan earthing point),
3. Drop tegangan yang diijinkan,
4. Panas yang timbul pada kabel

Pada penentuan ukuran sectional area ini digunakan Nomogram 24 V dengan memperhatikan ukuran fuse (skala sebelah kiri) dan panjang kabel dalam meter (skala sebelah kanan).

Ukuran sectional area pada suatu kabel akan ditemukan secara tepat dengan mengambil nilai dari skala dengan memperhatikan kepada 5% drop tegangan pada kabel (2,5% drop tegangan pada sirkuit alternator) atau panas yang timbul pada kabel (oC). Pilih ukuran sectional area yang paling besar diantara keduanya.

Urutan kerjanya adalah sebagai berikut:
1. Hitung ukuran dari fuse (A)
2. Ukur panjang kabel yang digunakan (m)
3. Masukkan ukuran pada nomogram, tarik garis dan baca hasilnya.

Contoh: Beban yang akan dipasang sebesar 260 W dan panjang kabel adalah 4 meter.Dari perhitungan sebelumnya didapatkan ukuran fuse adalah 25 A, maka:

1. Ukuran fuse: 25 A x 1,35 = 33,75 A
2. Panjang kabel: 4 m
3. Gambarlah sebuah garis pada titik 34A di skala sebelah kiri kearah kanan menuju skala sebelah kanan pada titik 4 m. Garis ini akan memotong skala oC dan  mm2. Untuk skala oC, ukuran sectional area yang dibutuhkan adalah 2,5  mm2.Untuk skala mm2, ukuran sectional area yang dibutuhkan adalah 4,0 mm2.. Diantara dua pilihan tersebut, pilihlah yang paling besar ukuran sectional area-nya.

Kesimpulannya adalah untuk beban yang dipasang dengan daya 260 W, tegangan sebesar 24 V,fuse yang dipasang adalah 25A dan kabel yang digunakan untuk jarak 4 m adalah kabel yang mempunyai ukuran sectional area sebesar 4,0 mm2.